SUARAIKAWANGI, Jembrana – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jembrana terus mendorong transformasi sektor pertanian menuju sistem modern guna meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani. Hal tersebut disampaikan oleh Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan, dalam acara Panen Bersama Padi Penerapan PM-AAS (Pertanian Modern – Advanced Agricultural System) yang berlangsung di Subak Tibu Beleng, Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo, Kamis (24/9/2026).
Sistem PM-AAS merupakan program strategis Kementerian Pertanian yang telah diterapkan pada lahan percontohan seluas 100 hektar di 15 provinsi di Indonesia—mulai dari Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali, hingga Papua—salah satunya di Kabupaten Jembrana. Rangkaian kegiatan diawali dengan panen padi bersama di lahan demplot (demonstration plot), dilanjutkan dengan sesi dialog bersama krama subak.
Acara ini turut dihadiri oleh Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian, Prof. Dr. Ir. Fadjry Djufry; Direktur Pembenihan Tanaman Pangan, Dr. Ir. Ladiyani Retno Widowati; Dandim 1617/Jembrana; para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL); serta Ketua Krama Subak se-Kabupaten Jembrana.
Bupati Kembang menyampaikan optimismenya terhadap efisiensi dan efektivitas penerapan teknologi PM-AAS. Menurutnya, inovasi ini terbukti memberikan peningkatan hasil panen yang signifikan. “Dengan sentuhan teknologi dan perlakuan yang tepat, hasilnya jauh berbeda. Biaya operasional hanya naik sekitar 15%, namun hasilnya bisa meningkat hingga 50%. Dari yang biasanya 6–7 ton per hektar, kini dapat mencapai 10 hingga 11 ton per hektar,” ujar Bupati.
Ia menegaskan bahwa pemerintah pusat dan daerah telah menyiapkan berbagai fasilitas pendukung, mulai dari alsintan (combine harvester dan traktor), kepastian harga gabah yang menguntungkan, ketersediaan pupuk bersubsidi, pendampingan PPL, hingga dukungan penuh TNI dan Polri dalam mengawal ketahanan pangan. Bupati Kembang juga menekankan pentingnya perubahan mindset dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di kalangan petani, khususnya generasi muda.
“Petani sekarang harus keren dan mau meng-upgrade diri. Jika dulu kita mengolah tanah dengan tenggala (bajak tradisional) lalu berganti traktor, kini ada teknologi penanaman yang lebih modern. Jangan ragu untuk mengadopsinya,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, beberapa kendala petani turut dibahas, seperti kesulitan air di musim kemarau serta isu alih fungsi lahan yang mendapat perhatian khusus. “Kerja sama dengan petani sangat kami harapkan. Apabila ada yang mengubah lahan sawah menjadi perumahan, segera tegur dan laporkan ke desa, Polprades, atau camat. Jangan dibiarkan, karena aturannya kini sangat ketat. Petani juga sudah di-backup oleh TNI/Polri demi menjaga ketahanan pangan kita,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian, Prof. Dr. Ir. Fadjry Djufry, mengapresiasi kebersamaan kelompok tani di Subak Tibu Beleng yang bersedia menerapkan pola tanam berkelompok dan serentak untuk menekan risiko serangan hama. Sebagai bentuk komitmen pemerintah pusat, Prof. Fadjry menegaskan kesiapannya menyalurkan bantuan benih gratis secara berkelanjutan bagi para petani di Kabupaten Jembrana.
“Petani yang menerapkan sistem PM-AAS akan dibantu benih gratis sebanyak 70 kg per hektar dari pemerintah. Berapa pun kuota yang diminta Pak Bupati untuk Jembrana, kami siap alokasikan semuanya,” kata Prof. Fadjry.
Melalui panen bersama dan sinergi antara pemerintah pusat, daerah, TNI/Polri, serta krama subak, Kabupaten Jembrana optimistis mampu menjadi salah satu lumbung pangan modern yang mandiri dan berkelanjutan di Provinsi Bali. (Red)












