SUARAIKAWANGI, Jembrana – Penyelenggaraan Lomba Layang-Layang Jembrana di Pantai Pengambengan pada Minggu (30/8/2026) memicu gelombang kekecewaan mendalam, baik dari para peserta (rare angon) maupun Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan. Event yang digagas oleh organisasi Kite Pelangi Jembrana tersebut dinilai gagal disajikan secara profesional akibat buruknya manajemen teknis, minimnya koordinasi, hingga ketidaktransparanan dalam proses penilaian. Padahal, dengan kapasitas dan nama besar Pelangi Jembrana, ajang ini seharusnya mampu menyuguhkan standar kompetisi yang rapi dan berkualitas tinggi.
Kondisi di lapangan menunjukkan lemahnya persiapan panitia. Selain atmosfer acara yang sepi dan jadwal yang berbenturan dengan Denpasar Kite Festival, sikap penyelenggara yang tidak profesional dinilai merugikan potensi pariwisata serta perputaran ekonomi UMKM lokal. Padahal, Pemerintah Kabupaten Jembrana turut menggelontorkan anggaran untuk menopang kegiatan budaya tersebut.
Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan, menyampaikan kekecewaannya secara terbuka usai meninjau langsung lokasi acara pada Senin (31/8/2026). Ia pun menyerukan pembenahan menyeluruh atas insiden ini.
“Pelaksanaannya sangat mengecewakan dan terkesan asal-asalan, tanpa persiapan matang. Bahkan event yang digarap komunitas kecil dengan anggaran lebih sedikit bisa dikemas jauh lebih baik dari ini. Ini harus jadi catatan sekaligus evaluasi total panitia,” tegas Kembang.
Ia juga meminta seluruh organisasi di Jembrana untuk lebih serius, transparan, dan bertanggung jawab dalam mengemas kegiatan di masa mendatang demi menjaga nama baik daerah. Kekecewaan serupa diungkapkan oleh para peserta. Selain kendala teknis dan pengemasan acara yang buruk, proses penentuan juara oleh panitia dinilai mencederai nilai sportivitas serta semangat kebersamaan para pecinta seni layang-layang Bali.
“Banyak kekecewaan yang terjadi, mulai dari kendala teknis hingga keputusan penentuan juara oleh panitia. Kegaduhan ini memicu kekecewaan luas, baik dari rare angon Jembrana maupun rare angon SARBAGITA,” ungkap salah satu peserta yang enggan disebutkan namanya.
Atas dasar itu, para peserta mendesak Pemkab Jembrana untuk mengevaluasi jajaran pengurus Pelangi Jembrana. “Perlu ada evaluasi terhadap Ketua Pelangi Jembrana saat ini. Terkait hal tersebut yang kami butuhkan adalah sosok yang memiliki kapasitas serta komitmen tinggi untuk mengayomi asosiasi, sehingga kami tetap merasa dinaungi dan diurus dengan baik,” tambahnya.
Peserta berharap insiden ini menjadi momentum pembenahan agar penyelenggaraan event budaya di masa mendatang dapat dikelola secara transparan, profesional, dan akuntabel demi merangkul seluruh pecinta layang-layang di Bali. (Red)
Dinilai Cedera Sportivitas, Rare Angon Desak Perombakan Pengurus Pelangi Jembrana












